
Dijelaskan ketua yayasan, sekolah unggulan kedua di tanah Papua ini menerapkan sistem pendidikan semi-militer yang menekankan kedisiplinan, kepemimpinan, dan pembentukan karakter kuat bagi siswa.
Menggabungkan kurikulum nasional dengan program khusus yang melatih fisik, mental, dan intelektual siswa secara seimbang, termasuk pelajaran Kenusantaraan dan Bela Negara untuk menumbuhkan nasionalisme.
Proses seleksi yang sangat ketat memastikan hanya siswa dengan kemampuan akademik tinggi, fisik prima, dan karakter kuat yang diterima, menciptakan lingkungan belajar yang kompetitif dan inspiratif.
Fasilitas lengkap seperti asrama, laboratorium, dan lapangan olahraga serta pendampingan langsung dari TNI-AD mendukung pembentukan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab siswa.
“Keunggulan-keunggulan ini menjadikan SMA Unggulan Taruna Cenderawasih Jayapura sebagai model sekolah unggulan yang tidak hanya mengedepankan prestasi akademik, tetapi juga karakter, kepemimpinan, dan nasionalisme siswa,” ujar ketua yayasan.
Dia juga mengatakan, di SMA Unggulan Taruna Cenderawasih Jayapura siswa diajarkan kedisiplinan ketat dalam segala aspek kehidupan sehari-hari, mulai dari tata tertib, kebersihan, hingga manajemen waktu, yang menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kemandirian.
Selain guru sebagai pengajar, juga berperan sebagai pembina karakter yang menanamkan nilai-nilai nasionalisme, kerja sama, dan kepemimpinan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan pelatihan militer.
Meski demikian, program ini dinilai berpotensi menciptakan kesenjangan baru antara sekolah unggulan dan sekolah reguler, karena adanya stigma negatif terhadap sekolah non-unggulan yang dianggap kurang bermutu.
Hal ini bisa menimbulkan labelisasi dan stigmatisasi di kalangan siswa dan masyarakat, yang berdampak pada sistem pendidikan nasional, karena dapat melahirkan hierarki dan dikotomi dalam sistem pendidikan, bertentangan dengan semangat pemerataan yang diamanatkan konstitusi.
Namun, Pemerintah Kota Jayapura dan Yayasan Gema Valentine Papua berupaya mengatasi hal ini dengan memberikan kuota dan beasiswa untuk siswa kurang mampu serta penguatan sekolah reguler secara paralel.
Program ini juga bertujuan membangun ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan perguruan tinggi dan sektor industri, untuk mengurangi brain drain dan menciptakan jalur karir bagi lulusan.